Orang Barat
mengatakan waktu adalah uang, tapi Islam mengartikan lebih dari itu. Uang tidak
lebih berharga daripada waktu, karena waktu adalah setiap detik yang dihabiskan
untuk mengabdi kepada Allah oleh seorang hamba dalam setiap amalannya, baik
amalan untuk dunia maupun amalan untuk akhiratnya. Maka setiap detik perjalanan
manusia adalah pencarian ridho Allah dan pahala-Nya, dan kesia-siaan dalam
penghabisan waktu oleh manusia hanya akan berdampak negatif bagi masa depannya.
Urgensi manajemen waktu telah
Allah singgung sendiri di dalam Al-Qur’an surat Al-‘Ashr yang artinya “Demi
masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali
orang-orang yang beriman dan beramal sholih dan saling menasehati dalam kebaikan
maupun kesabaran”. Menurut ayat tersebut maka manusia yang tidak memanfaatkan
waktu secara efektif dalam tanda kutip “bermanfaat”, dia akan merugi karena
merasa detik-detik yang ia habiskan baru saja tidak menghasilkan dampak positif
atau tidak ada perubahan dalam dirinya. Bukti pentingnya waktu juga diungkapkan
Allah dalam surat-surat lain dalam Al-Qur’an seperti Al-Lail, Al-Fajr, Adh-Dhuha, dan sebagainya.
Dalam sebuah hadits juga menyebutkan bahwa penggunaan waktu yang baik yaitu
meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat bagi manusia.
Menurut yang saya baca dari
internet, Yusuf Qardhawi mengungkapkan mengapa begitu pentingnya umat Islam
mempelajari manajemen waktu, adalah karena sebagai berikut:
·
Ajaran
Islam begitu besar perhatiannya terhadap waktu, baik yang diamanatkan Al-qur’an
maupun As-Sunnah,
·
Dalam
sejarah orang-orang Muslim generasi pertama, terungkap, bahwa mereka sangat
memperhatikan waktu dibandingkan generasi berikutnya, sehingga mereka mampu
menghasilkan sejumlah ilmu yang bermanfaat dan sebuah peradaban yang mengakar
kokoh dengan panji yang menjulang tinggi,
·
Kondisi
real, kaum Muslimin, belakangan ini justru berbalikan dengan generasi pertama
dahulu, yakni cenderung lebih senang membuang-membuang waktu, sehingga kita
tidak mampu berbuat banyak dalam mensejahterkan dunia sebagaimana mestinya, dan
tidak pula berbuat untuk akhirat sebagaimana harusnya, dan yang terjadi adalah
sebaliknya, kita meracuni kehidupan dunia dan akhirat sehingga tidak memperoleh
kebaikan dari keduanya.
Perlu diketahui juga bahwa seorang Muslim yang sadar akan pentingnya
waktu akan mengerti bahwa hidup tidak hanya mempersiapkan untuk kesuksesan di
dunia tapi juga kesuksesan akhirat, sehingga pemanage waktu yang baik akan
memikirkan untuk menyeimbangkan antara hidup untuk dunia, seperti akademik,
sosial politik, ekonomi maupun hidup untuk akhirat seperti amalan yaumiyahnya
dan berdakwah. Sehingga antara kewajiban, kebutuhan, dan keinginan bisa
diselaraskan untuk kesejahteraan hidup. Maka benang merah yang bisa diambil adalah
kesuksesan dunia maupun akhirat akan ditentukan oleh dirinya sendiri sebagai
pribadi tangguh dengan semangat untuk selalu mengupgrade diri, menyelaraskan pemikiran tentang kepentingan dunia dan
akhirat demi tercapainya hidup yang berkualitas maupun tercapainya obsesi keukhrowiyahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar