Menjadi mahasiswa atau pribadi tangguh, prestatif, talented, dan
disukai banyak orang adalah idaman bagi setiap individu. Semuanya bisa
didapatkan ketika seseorang mau dan ingin berubah untuk menjadi idaman banyak
orang. Namun, tidak harus seseorang berubah 180 derajat untuk menjadi yang
demikian itu. Karena semuanya akan sama saja jika diri seseorang berubah total
tapi takabburnya muncul ataupun sifat jelek lainnya. Yang ingin saya tekankan
di sini adalah merubah apa yang menjadi kekurangan kita. Segala kekurangan pada
dasarnya mutlak dimiliki seseorang beserta kelebihannya, namun tidaklah
mustahil jika seseorang ingin merubah paradigma dan kelakuannya untuk menjadi
pribadi yang lebih disiplin untuk hidup yang lebih baik.
Excellent in attitude, perfect in academic, and full of talent. Tiga
aspek yang menjadi sorotan mata yang pribadinya ingin memiliki keseluruhan tiga
hal tersebut.
Excellent in attitude. Tentu berbeda, pandangan dan perasaan orang
yang melihat dan merasakan seseoarang yang kelakuan, akhlak, tindak tanduk,
bahasa, dan sifat antara pribadi yang sholih, beriman, dan bertaqwa, dengan
orang yang dengan pribadi dalam kesehariannya menjadi gunjingan orang banyak
karena akhlak yang dimilikinya tidak menunjukkan real muslim. Ketika ditanya
mengapa dia begitu, maka jawabannya adalah kurangnya pendidikan moral dan agama
yang ia dapatkan ataupun pergaulan yang salah. Sehingga meskipun pondasi agama
ia dapatkan mulai dari kecil, tapi ketika dia terjerumus kepada pergaulan yang
salah, maka sia-sia yang ia dapatkan. Maka yang diperlukan seseorang untuk
menjaga iman dan akhlaknya adalah tetap berlindung kepada Sang Maha Raja
manusia, karena hanyalah Dia yang membolak-balikkan hati seseorang, dan tentunya tetap istiqomah
dalam segala keadaan.
Perfect in academic. Mendapat IPK cumlaude, menjadi mahasiswa berprestasi, aktif mengikuti
olimpiade-olimpiade yang digelar, dan sebagainya menjadi idaman mahasiswa tidak
hanya dari ITS, tapi mahasiswa-mahasiswa dari universitas lain. Tidak susah kok
mendapatkan semua itu. Hanya perlu belajar (usaha), berdoa, dan tawakkal. Tidak
ada tawaran lain mengenai rumus tersebut. Seberapa keras pun seseorang berusaha
jika tidak diiringi dengan munajat dan pendekatan diri kita kepada Sang
Pemurah, maka kapanpun Allah mau, dengan kun
fayakunnya, tidak akan mustahil jika Allah yang mentakdirkannya. Dan,
ketika apapun yang seorang dapatkan dari hasil yang ia usahakan, baik yang ia
terima maupun tidak, hanya butuh tawakkal dan sabar. Karena itu adalah ujian
Allah yang diberikan kepada hamba-Nya, supaya dia muhasabah diri dan lebih
mendekatkan diri kepada-Nya.
Full of talent. Cakap berbicara di depan umum, perangkai kata-kata
indah, PKM selalu lolos, dan semacamnya menjadi idaman juga bagi tiap individu.
Bagaimana tidak, sanjungan dan ketenaran akan didapatkan. Tapi sejatinya bukan
hal itu tujuannya, karena sanjungan dan ketenaran hanyalah sebuah
kesemuan. Yang terpenting adalah
bagaimana proses seseorang untuk menjadi
apa yang ia inginkan. Proses merupakan suatu jalan, titian, ataupun jembatan
yang dilalui seseorang dengan caranya masing-masing sesuai kepribadian yang ia
miliki dengan segala kelebihan dan keterbatasannya, mengambil pelajaran dari
kegagalan orang lain, meramu semua yang ia dapatkan hingga ia menemukan hasil
dari titian panjang yang ia lalui. Ketika seseorang telah mendapatkan
talentanya, pergunakan untuk kebaikan agama dan kesejahteraan orang lain.
Karena hal itulah yang menjadi tujuan dari semua yang diusahakan.
Namun semuanya akan menjadi hambar ketika seseorang hanya memilki
hanya satu atau dua dari ketiga aspek tersebut. Karena akan tidak seimbang
ketika muslim prestatif tapi kelakuannya meresahkan orang lain. Maka untuk
kesempurnaan muslim yang ingin memiliki pribadi idaman, ketiga aspek tersebut
seyogyanya ditanamkan dan dipupuk sedemikian rupa untuk menjadi muslim idaman
ummat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar