Senin, 11 Februari 2013

URGENSI MANAJEMEN WAKTU


Orang Barat mengatakan waktu adalah uang, tapi Islam mengartikan lebih dari itu. Uang tidak lebih berharga daripada waktu, karena waktu adalah setiap detik yang dihabiskan untuk mengabdi kepada Allah oleh seorang hamba dalam setiap amalannya, baik amalan untuk dunia maupun amalan untuk akhiratnya. Maka setiap detik perjalanan manusia adalah pencarian ridho Allah dan pahala-Nya, dan kesia-siaan dalam penghabisan waktu oleh manusia hanya akan berdampak negatif bagi masa depannya.
                Urgensi manajemen waktu telah Allah singgung sendiri di dalam Al-Qur’an surat Al-‘Ashr yang artinya “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholih dan saling menasehati dalam kebaikan maupun kesabaran”. Menurut ayat tersebut maka manusia yang tidak memanfaatkan waktu secara efektif dalam tanda kutip “bermanfaat”, dia akan merugi karena merasa detik-detik yang ia habiskan baru saja tidak menghasilkan dampak positif atau tidak ada perubahan dalam dirinya. Bukti pentingnya waktu juga diungkapkan Allah dalam surat-surat lain dalam Al-Qur’an seperti  Al-Lail, Al-Fajr, Adh-Dhuha, dan sebagainya. Dalam sebuah hadits juga menyebutkan bahwa penggunaan waktu yang baik yaitu meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat bagi manusia.
                Menurut yang saya baca dari internet, Yusuf Qardhawi mengungkapkan mengapa begitu pentingnya umat Islam mempelajari manajemen waktu, adalah karena sebagai berikut:
·      Ajaran Islam begitu besar perhatiannya terhadap waktu, baik yang diamanatkan Al-qur’an maupun As-Sunnah,
·      Dalam sejarah orang-orang Muslim generasi pertama, terungkap, bahwa mereka sangat memperhatikan waktu dibandingkan generasi berikutnya, sehingga mereka mampu menghasilkan sejumlah ilmu yang bermanfaat dan sebuah peradaban yang mengakar kokoh dengan panji yang menjulang tinggi,
·      Kondisi real, kaum Muslimin, belakangan ini justru berbalikan dengan generasi pertama dahulu, yakni cenderung lebih senang membuang-membuang waktu, sehingga kita tidak mampu berbuat banyak dalam mensejahterkan dunia sebagaimana mestinya, dan tidak pula berbuat untuk akhirat sebagaimana harusnya, dan yang terjadi adalah sebaliknya, kita meracuni kehidupan dunia dan akhirat sehingga tidak memperoleh kebaikan dari keduanya.
Perlu diketahui juga bahwa seorang Muslim yang sadar akan pentingnya waktu akan mengerti bahwa hidup tidak hanya mempersiapkan untuk kesuksesan di dunia tapi juga kesuksesan akhirat, sehingga pemanage waktu yang baik akan memikirkan untuk menyeimbangkan antara hidup untuk dunia, seperti akademik, sosial politik, ekonomi maupun hidup untuk akhirat seperti amalan yaumiyahnya dan berdakwah. Sehingga antara kewajiban, kebutuhan, dan keinginan bisa diselaraskan untuk kesejahteraan hidup. Maka benang merah yang bisa diambil adalah kesuksesan dunia maupun akhirat akan ditentukan oleh dirinya sendiri sebagai pribadi tangguh dengan semangat untuk selalu mengupgrade diri, menyelaraskan pemikiran tentang kepentingan dunia dan akhirat demi tercapainya hidup yang berkualitas maupun tercapainya obsesi keukhrowiyahan.

UMAT ISLAM SAAT INI DAN FAKTOR KEMUNDURANNYA


Kesadaran terhadap adanya musuh membuat kita semakin peka terhadap apa yang sebenarnya terjadi dan saat itulah kita akan terbebas dari tipu daya atau paling tidak kita mampu mengantisipasi tipu daya yang mungkin terjadi pada diri kita yang akan mencelakakan kita. Salah satu di antara permasalahan yang paling penting untuk disadari oleh umat Islam khususnya pada saat sekarang ini adalah tentang ghozwul fikri (perang pemikiran) yakni suatu inovasi pemikiran atau suatu gerakan yang sangat hebat dalam persoalan pemikiran.
Penting kita melihat bagaimana sebenarnya kondisi umat Islam sekarang ini. Banyak sekali kemunduran-kemunduran, khususnya pada abad-abad terakhir ini. Setelah umat Islam dimasa-masa kejayaannya pertama di masa Rasulullah SAW, kemudian masa para sahabatnya. Dilanjutkan para tabiin dan tabi’ut tabi’in sampai 7 abad berikutnya. Sampai kemudian dilanjutkan lagi dengan peradaban di Andalus.
Jika kita melihat pada kehebatan umat Islam saat itu, lalu mengapa saat ini umat Islam justru mengalami anti klimaks yang sangat merugikan umat Islam itu sendiri. Ini bukan sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba, apalagi mempermasalahkan Allah SWT dengan mengatakan bahwa ini adalah takdir. Oleh karena itu penting sekali kita mencoba mengevaluasi, merenungkan, mencari sebab-sebab apa sajakah yang mengakibatkan kemunduran kaum muslimin ini. Diantara faktor-faktor tersebut adalah :
1. Akibat jauhnya umat Islam dari Kitabullah dan As Sunnah.
Kitabullah dan sunnah rasul-Nyalah yang akan mengangkat harkat dan martabat suatu bangsa. Dengannya Allah swt meneguhkan keyakinan kaum muslimin dalam melawan musuh-musuhnya. Dengannya pula Allah mengangkat suatu kaum dan merendahkan kaum yang lain.
Jauhnya umat Islam dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya merupakan salah satu yang mengakibatkan umat Islam kini mempunyai konsep diri yang buruk sekali. Lihatlah hari ini! Berapa banyak anak-anak pada umur 9 tahun tidak hafal alquran. Jangankan menghafal, membacanya pun masih sangat jarang. Berapa banyak anak-anak yang paham bahasa Al-Qur’an ? Hanya untuk belajar Matematika, Bahasa Inggris dan ilmu umum lainnya kita rela untuk mengkursuskan anak-anak kita, sedangkan untuk bahasa arab hampir tidak terpikirkan.
Maka benar apa yang disampaikan nabi Rasulullah Muhammad SAW dalam hadistnya: Dari Ali bin abi Tholib ra. berkata, bersabda Rasulullah saw : “Akan datang pada ummatku suatu zaman, yang tidak tersisa dari islam kecuali namanya, dan tidak tersisa dari alqur’an kecuali tulisannya, masjid mereka ramai akan tetapi sepi dari petunjuk, ulama mereka sejelek-jelek manusia dikolong langit, darinya keluar fitnah dan kepada mereka fitnah tersebut kembali. (HR. Baihaqi)
2. Taklid (ikut-ikutan).
Karena umat tidak punya nilai, tidak memiliki prinsip-prinsip yang sangat berharga sebagaimana yang ada di dalam Al Qur’an dan As Sunnah, akhirnya yang mereka lakukan adalah mencari nilai dari orang lain. Kalau sudah demikian yang terjadi, maka mereka akan mengikuti apa saja sesuai dengan kebiasaan orang lain. Akibatnya adalah ikut-ikutan. Ini yang pernah diantisipasi oleh Rasulullah saw, dalam haditsnya: “Sungguh kalian akan mengikuti cara-cara Sunan, gaya-gaya orang-orang sebelum kalian satu jengkal, satu hasta, satu depa, secara bertahap sehingga sampai mereka memasuki lubang biawak sekalipun kalian akan mengikutinya”. Para sahabat bertanya, ”Yahudi dan Nasrani?”. Jawab Rasul, ”Siapa lagi kalau bukan mereka”. (HR. Bukhori)
Antisipasi ini nampaknya sudah terasa dimasa sekarang. Penyebabnya adalah umat ini telah kehilangan nilai, prinsip dan tidak punya paradigma dalam hidup serta konsep hidup tidak jelas. Padahal dalam Qur’an dan Sunnah sangat kaya dengan seluruh prinsip kehidupan manusia.
3. Terjadinya perpecahan di kalangan umat.
Banyaknya organisasi-organisasi dan partai-partai umat Islam yang diakibatkan karena umat sekarang ini tidak punya nilai konsep persatuan dan kesatuan fikroh pemikiran, dan akidah. Semua merasa dirinya benar dan tidak bersikap dewasa. Yaitu sikap bahwa antara gerakan yang satu membutuhkan gerakan yang lain.
4. Adanya pertempuran antara haq dan bathil .
Salah satu pelajaran berharga bagi umat Islam adalah “Perang Salib”, yang menggunakan berbagai dimensi pertempuran, politik, ekonomi, dan perang di tataran keagamaan. Musuh-musuh Islam menggunakan berbagai macam cara, mereka itu dari berbagai macam kelompok yaitu orang-orang yang tidak beragama, atheis, yahudi, musyrikin, nasrani dan munafik. Imam syafi’I dalam tafsir Ibnu katsir di akhir surat al kafirun menyatakan : apapun jenisnya kekufuran itu merupakan satu pokok ajaran. Mereka bersatu padu untuk membangun satu kesepakatan dan konspirasi yang selanjutnya mereka menggunakan berbagai macam sarana. Akan tetapi Allah Ta’ala akan menyempurnakan cahayanya walaupun orang-orang kafir tidak senang. Allah Ta’ala berfirman :
“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci. “[QS As Shoff : 8]
Pada akhirnya, dengan seluruh sarana itu umat Islam digiring menjadi kelompok yang tertindas. Pada saat umat ini merasakan titik bawah dalam kehidupan, kehilangan kepercayaan diri, saat itulah mereka punya peluang untuk dimurtadkan. Perang pemikiran ternyata merupakan langkah pertama yang utama dalam pertempuran antara haq dan bathil.
           Banyak teori-teori sekarang ini yang menjauh dari nilai-nilai Islam, teori yang terkait dengan kemanusiaan, seperti ekonomi politik, sosial budaya atau psikologi. Karena kita tidak memiliki kekuatan prinsip nilai-nilai Islam, tidak memiliki paradigma teori yang bersumberkan dari Al Quran dan Sunnah Rasulullah saw, pada akhirnya kita semua mengikuti seluruh teori-teori itu tanpa sedikitpun kita menyeleksi, akibatnya persepsi kita berubah. Cara berfikir kita juga berubah, umat Islam tidak lagi mencerminkan cara berfikir yang islami, sehinga emosi umat Islam pun tidak memiliki emosi yang islami.
Sebagai jalan keluar dari semua itu adalah mengembalikan seluruh permasalahan kepada al quran dan as sunnah dengan pemahaman salaf. Sebagaimana perkataan imam malik rahimahullah: “Generasi akhir ummat ini tidak akan kembali jaya, kecuali dengan apa-apa yang telah mengantarkan kejayaan generasi awal”. Artinya, jauh dekatnya kita dengan pemahaman para ‘ulama dan salafus sholih akan mempengaruhi kuat dan tidaknya ummat islam ini. Semoga kita senantiasa diberikan kekuatan untuk mengembalikan kembali kejayaan islam.


SINOPSIS FILM “TAARE ZAMEEN PAR”


Taare Zameen Par menceritakan seorang anak yang bernama Ishaan Nandkishore Awasthi yang belum bisa baca tulis di usianya yang ke 8-9 tahun. Cara berpakaiannya tidak rapi dan selalu kotor. Di kelasnya, dia selalu mendapat peringkat terbawah. Berbeda dengan kakaknya yang selalu mendapat peringkat tertinggi di kelasnya. Keluarga Ishaan sering mendapat kritik, baik dari keluarga maupun pihak sekolah karena ulahnya.
Keluarga Ishaan sangat berpegang teguh dengan prinsip yang mereka canangkan  dari awal, disiplin, tertib, dan terorganisir. Karena mereka yakin tiga poin itu adalah syarat menuju kesuksesan.
Di kelas, ketika Ishaan diminta gurunya untuk membuka hal. 38, bab 4, paragraph 3, dia seperti kebingungan dengan perintah gurunya. Dan untuk kedua kalinya ketika diminta untuk membaca, dia berkata bahwa hurufnya nenarinari. Aoa yang terjadi pada Ishaan? Idiotkah ia?
Tapi, diantara sekian banyaknya kekurangan-kekurangan Ishaan, Tuhan masih memberinya kelebihan. Yaitu imajinasinya yang tinggi dalam bidang menggambar  yang tidak dimiliki oleh anak-anak lain.
Sampai pada akhirnya orangtua Ishaan mengetahui bahwa nilai Ishaan jelek, sehingga membuat papanya memutuskan untuk menyekolahkan Ishaan di sekolah berasrama dengan harapan Ishaan bisa lebih disiplin dan rapi serta nilai dan prestasinya bagus. Namun, begitulah Ishaan. Dia masih saja begitu, terus menangis dan merenungi nasibnya, menjadi bahan tertawaan teman-temannya, dan mendapat hukuman dari guru-gurunya.
Suatu hari, datanglah seoarang guru seni ke sekolah itu, yang bernama Ram Shankar Nikumbh. Dia mengajar anak-anak idiot  di sebuah sekolah bernama Sekolah Tulip. Pak Nikumbh juga sangat memberi perhatian lebih kepada nasib anak-anak kecil. Sampai Pak Nikumbh mengetahui masalah dan keadaan Ishaan saat itu. Dan, Pak Nikumbh pun mendatangi rumah keluarga Ishaan untuk klarifikasi lebih dalam lagi mengenai keadaan Ishaan. Hingga akhirnya, diketahuilah penyakit dyslexia yang diderita Ishaan,  yaitu suatu penyakit disebabkan tidak bisa mengenali huruf sehingga tidak bisa baca tulis dan kurangnya kemampuan motorik.
Maka, Pak Nikumbh pun mempunyai ide untuk merubah dan memajukan Ishaan karena sudah banyak guru yang mancaci maki Ishaan. Pak Nikumbh meminta kepada kepala sekolah untuk memberi kesempatan pada Ishaan, dan dia akan berusaha mengajari Ishaan baca tulis, 2-3 jam per minggu dia luangkan waktunya untuk mengajari Ishaan dan akhinya oun berhasil.
Suatu hari, Pak Nikumbh mengadakan lomba melukis untuk setiap orang, dari kecil sampai dewasa. Pagi  hari menjelang lomba dimulai Ishaan bangun pagi sekali sebelum semua teman-temannya bangun, dia sudah rapi dengan pakaiannya, rambut, dan tali sepatunya juga. Kemudian dia keluar.
Pak Nikumbh khawatir, karena Ishaan belum datang ketika lomba sudah dimulai. Tapi kemudian Ishaan muncul. Tak lama kemudian, Ishaan datang  dan dia memulai melukis. Pak Nikumbh juga pun mulai melkis. Dan, ketika diumumkan pemenangnya antara Pak Nikumbh dan Ishaan, dan akhirnya pemenangnya yaitu Ishaan.
Taare Zameen Par. Every child is special. Dan itu terbukti pada Ishaan dengan keterbatasannya, tapi dengan semangatnya untuk belajar dan memperbaiki diri, ia pun berhasil menjadi yang terbaik.

EXPERT (Excellent in Attitude, Perfect in Academic, Full of Talent)


Menjadi mahasiswa atau pribadi tangguh, prestatif, talented, dan disukai banyak orang adalah idaman bagi setiap individu. Semuanya bisa didapatkan ketika seseorang mau dan ingin berubah untuk menjadi idaman banyak orang. Namun, tidak harus seseorang berubah 180 derajat untuk menjadi yang demikian itu. Karena semuanya akan sama saja jika diri seseorang berubah total tapi takabburnya muncul ataupun sifat jelek lainnya. Yang ingin saya tekankan di sini adalah merubah apa yang menjadi kekurangan kita. Segala kekurangan pada dasarnya mutlak dimiliki seseorang beserta kelebihannya, namun tidaklah mustahil jika seseorang ingin merubah paradigma dan kelakuannya untuk menjadi pribadi yang lebih disiplin untuk hidup yang lebih baik.
Excellent in attitude, perfect in academic, and full of talent. Tiga aspek yang menjadi sorotan mata yang pribadinya ingin memiliki keseluruhan tiga hal tersebut.
Excellent in attitude. Tentu berbeda, pandangan dan perasaan orang yang melihat dan merasakan seseoarang yang kelakuan, akhlak, tindak tanduk, bahasa, dan sifat antara pribadi yang sholih, beriman, dan bertaqwa, dengan orang yang dengan pribadi dalam kesehariannya menjadi gunjingan orang banyak karena akhlak yang dimilikinya tidak menunjukkan real muslim. Ketika ditanya mengapa dia begitu, maka jawabannya adalah kurangnya pendidikan moral dan agama yang ia dapatkan ataupun pergaulan yang salah. Sehingga meskipun pondasi agama ia dapatkan mulai dari kecil, tapi ketika dia terjerumus kepada pergaulan yang salah, maka sia-sia yang ia dapatkan. Maka yang diperlukan seseorang untuk menjaga iman dan akhlaknya adalah tetap berlindung kepada Sang Maha Raja manusia, karena hanyalah Dia yang membolak-balikkan  hati seseorang, dan tentunya tetap istiqomah dalam segala keadaan.
Perfect in academic. Mendapat IPK cumlaude, menjadi mahasiswa berprestasi, aktif mengikuti olimpiade-olimpiade yang digelar, dan sebagainya menjadi idaman mahasiswa tidak hanya dari ITS, tapi mahasiswa-mahasiswa dari universitas lain. Tidak susah kok mendapatkan semua itu. Hanya perlu belajar (usaha), berdoa, dan tawakkal. Tidak ada tawaran lain mengenai rumus tersebut. Seberapa keras pun seseorang berusaha jika tidak diiringi dengan munajat dan pendekatan diri kita kepada Sang Pemurah, maka kapanpun Allah mau, dengan kun fayakunnya, tidak akan mustahil jika Allah yang mentakdirkannya. Dan, ketika apapun yang seorang dapatkan dari hasil yang ia usahakan, baik yang ia terima maupun tidak, hanya butuh tawakkal dan sabar. Karena itu adalah ujian Allah yang diberikan kepada hamba-Nya, supaya dia muhasabah diri dan lebih mendekatkan diri kepada-Nya.
Full of talent. Cakap berbicara di depan umum, perangkai kata-kata indah, PKM selalu lolos, dan semacamnya menjadi idaman juga bagi tiap individu. Bagaimana tidak, sanjungan dan ketenaran akan didapatkan. Tapi sejatinya bukan hal itu tujuannya, karena sanjungan dan ketenaran hanyalah sebuah kesemuan.  Yang terpenting adalah bagaimana proses  seseorang untuk menjadi apa yang ia inginkan. Proses merupakan suatu jalan, titian, ataupun jembatan yang dilalui seseorang dengan caranya masing-masing sesuai kepribadian yang ia miliki dengan segala kelebihan dan keterbatasannya, mengambil pelajaran dari kegagalan orang lain, meramu semua yang ia dapatkan hingga ia menemukan hasil dari titian panjang yang ia lalui. Ketika seseorang telah mendapatkan talentanya, pergunakan untuk kebaikan agama dan kesejahteraan orang lain. Karena hal itulah yang menjadi tujuan dari semua yang diusahakan.
Namun semuanya akan menjadi hambar ketika seseorang hanya memilki hanya satu atau dua dari ketiga aspek tersebut. Karena akan tidak seimbang ketika muslim prestatif tapi kelakuannya meresahkan orang lain. Maka untuk kesempurnaan muslim yang ingin memiliki pribadi idaman, ketiga aspek tersebut seyogyanya ditanamkan dan dipupuk sedemikian rupa untuk menjadi muslim idaman ummat. 

SEJARAH NEYMAN-PEARSON DAN SUMBANGSIHNYA DALAM BIDANG STATISTIK


Dalam dunia statistik, dikenal dua ilmuwan yang memperkenalkan signifikansi statistik, yaitu Jerzy Neyman dan Egon Pearson.  Jerzy Neyman dilahirkan dalam sebuah keluarga Katolik Polandia di Bendery, Bessarabia di Imperial Rusia pada 16 April 1894 dan meninggal pada 5 Agustus 1981 di Oakland, California. Dilahirkan dari pasangan Czelaw Splawa-Neyman dan Kazimiera Lutoslawska. Dia mulai studinya di Univesitas Kharkov pada tahun 1912 sewaktu umur 18 tahun. Kesukaannya pada ukuran dan integrasi muncul setelah ia membaca “Lessons on the Integration and the Research of the Primitive Functions” oleh Henri Lebesgue. Tahun 1921 ia kembali ke Polandia dalam program pengembalian tawanan perang setelah Perang antara Polandia-Soviet. Disertasinya yang berjudul “On The Applications of the Theory Of Probability to Agricultural Experiments” menjadikannya memperoleh gelar doctor Filsafat Di Universitas Warsawa pada tahun 1924. Neyman menghabiskan beberapa tahun di London dan Paris pada sebuah persekutuan untuk belajar statistik dengan Karl Pearson dan Émile Borel. Sekembalinya ke Polandia, dia mendirikan Biometric Laboratory Institute Nencki of Experimental Biologi di Warsawa. Papernya yang berjudul "On the Two Different Aspects of the Representative Method: The Method of Stratified Sampling and the Method of Purposive Selection" diberikan di Royal Statistical Society pada 19 Juni 1934. Dia memperkenalkan interval keyakinan dalam makalahnya pada tahun 1937. Kontribusi lain yaitu lemma Neyman-Pearson. Ia bekerja dan menghabiskan sisa hidupnya di Berkeley setelah pindah pada tahun 1938. Tiga puluh sembilan mahasiswa menerima gelar Ph.D mereka di bawah advisorshipnya. Tahun 1966 ia dianugerahi Guy Medal dari Royal Statistical Society Medal of Science (Amerika).
Tokoh kedua yaitu Pearson, nama lengkapnya Egon Sharpe Pearson. Lahir di Hampstead, 11 Agustus 1895 dari pasangan Karl Pearson dan Maria Sharpe, ayahnya adalah seorang ahli statistik Inggris terkemuka. Ia adalah anak tengah dari 3 bersaudara, Sigrid Loetitia 3 tahun lebih tua dan Helga Sharpe 3 tahun lebih muda dari Egon. Pertama ia bersekolah di Dragon School Oxford tahun 1907 sampai 1909, lalu melanjutkan di Winchester College lulus tahun 1914 dan bulan Juni 1914 dia diterima di Trinity College, Cambridge. Tahun 1914, Perang Dunia I dimulai ketika dia belum diterima sebagai mahasiswa di Cambridge, maka dia masuk layanan militer. Tapi, ternyata dia menderita murmur jantung sehingga tidak jadi masuk militer. Oleh sebab itu di bekerja untuk Pelayaran dan Departemen Pengiriman. Pearson dianugerahi gelar BA pada tahun 1920. Dia kemudian memulai penelitian bidang astronomi di Cambridge dan baru terlibat dalam statistik sejak kuliah teori kesalahan. Tahun 1921 Pearson bergabung dengan ayahnya di Departemen Terapan Statistik University College London. Walaupun ayahnya berusaha menjauhkan Pearson untuk kuliah, namun Pearson tetap menghadiri kuliah ayahnya dan mulai menghasilkan aliran publikasi penelitian berkualitas tinggi pada statistik. Tahun 1924 ia menjadi editor asisten Biometrika.
Neyman dan Pearson sepakat untuk melakukan proyek penelitian pada bulan Juni 1926, tepat sebelum Neyman meninggalkan Paris. Penelitian mereka berlanjut melalui surat menyurat. Pernah sekali tahun 1927 Pearson mengunjungi Neyman di Paris dan kemudian memetakan penelitian pertama mereka. Tahun 1934 Neyman datang untuk bekerja di Pearson Departemen, tahun itu juga Pearson menikah dengan Eileen Joly dan dikaruniai 2 puteri. Penelitian sempat tersendat dikarenakan komitmen keluarga, tugas administrasi lebih lanjut dan memikul peran Managing Editor dari Biometrika karena kematian ayahya pada 1936. 
Neyman-Pearson memberikan sumbangsihnya di bidang statistik dalam uji signifikansi statistik. Menurut mereka, penentuan signifikansi statistik menggunakan nilai alpha untuk menunjukkan perilaku yang terpilih di antara hipotesis null (H0) dan hipotesis alternatif (HA). Neyman-Pearson menggunakan uji hipotesis untuk mencari titik signifikansi antara 2 hipotesis.
Mereka berdua telah berusaha sungguh-sungguh untuk melakukan penelitian walaupun kadang mereka tidak bertatap muka ketika melakukan penelitian itu, keadaan mereka juga tidak selalu aman. Cobaan dan ujian sering menghadang mereka, tapi hasil penelitian mereka akhirnya muncul dan hadir di tengah-tengah ilmu pengetahuan dunia.

LAPAS


Dalam setiap lini kehidupan manusia, diperlukan syarat-syarat yang mumpuni dalam standarisasi perjuangan untuk kehidupan yang lebih layak di dunia. Banyak orang kurang memaksimalkan potensi yang mereka miliki, lebih sering tertutup, lebih menyendiri dengan alasan itu bukan duniaku, itu bukan kebiasaanku, dan sebagainya. Padahal bila seseorang lebih menenggelamkan potensinya, maka makin dalam pula ia tenggelam dalam keterpurukan karena kurang terrmaksimalkan potensinya. Untuk mengasah potensi ataupun sekedar memunculkan potensi terpendam itu, maka seharusnya ia lebih menerjunkan diri ke dalam dunia sosial, sehingga ia lebih sering menghadapi masalah-masalah yang dengan atau tanpa pengetahuan untuk menyelesaikannnya.
Sebenanya, standarisasi hidup itu menurut pribadi masing-masing. Tapi, demi kemuliaan hidupnya, tiap orang seharusnya menanamkan standar umum pada diri mereka untuk berkompitisi dalam kerasnya hidup ini.
1.     Loyal
Loyal artinya patuh, setia, kesetiaan kepada orang yang disayangi, orang terdekat, atau bahkan setia bermusuhan dengannya?? :D Loyal di segala keadaan, susah maupun senang. Parameternya bukan hanya bareng kemana-mana. Tapi ia percaya dan bisa dipercaya,  percaya sepenuhnya kepada yang kita bela dan harus bisa dipercaya sehingga menimbulkan suatu keloyalan. Kepura-puraan tidak bisa disandingkan dengan loyalitas karena loyalitas adalah karakter yang mengandung ketulusan. Konsistensi dan stabilitas emosi juga salah satu pendukung berat loyalitas sehingga apapun yang diberikan orang lain kepadanya ia tetap loyal. Loyalitas juga bisa ditunjukkan dengan rasa kasihnya kepada yang ia beri loyalitasnya. Namun, tidak cukup hanya dengan rasa kasih, tapi harus berani pula berdedikasi. Yang terakhir adalah patriotik yaitu membela habis-habisan yang ia beri loyalitas.
2.     Profesional
Seorang yang profesional adalah orang yang menyadari arah jalan yang ia tuju, alasan, serta cara ia menuju sasarannya. Ia juga jujur mengakui kegagalannya, tapi juga mampu mengatasi rasa putus asanya, dan mampu berdiri kembali ketika ia jatuh. Ia tahu caranya memimpin tanpa bertindak sebagai diktator, dan ketika mengikuti (sebagai bawahan) tidak sampai menghilangkan kewibawaannya.
3.     Inisiatif
Inisiatif adalah dorongan untuk mengidentifikasi masalah atau peluang dan mampu ambil tindakan nyata untuk menyelesaikan masalah atau menangkap peluang. Dalam prosesnya, inisiatif berbanding lurus dengan resiko. Ketika seseorang berinisiatif rendah maka tingkat resiko yang didapatkan juga rendah, kecil resiko yang ia dapatkan begitu juga sebaliknya. Sehingga semakin tinggi resiko yang ia dapat, semakin dekat pula ia dengan kesuksesan karena inisiatif yang ia lakukan ia menjadi terbiasa menghadapi resiko-resiko atau masalah-masalah dalam hidupnya.
4.     Care
Peduli terhadap sesama diperlukan dalam bersosialisasi antar individu, apalagi ingin menjaga kedekatan dengan yang lain. Peduli pada sesama adalah responsif dan peka pada kondisi di sekitar kita. Kepekaan itu selain ditunjukkan dengan perasaan mengasihi dan menyayangi juga diperlihatkan dengan tindakan-tindakan positif seperti membantu dengan ringan apabila orang di sekitar membutuhkan bantuan.
5.     Teamwork  
Sebuah tim akan menjadi kuat, hebat, dan tak terkalahkan jika tim tersebut bekerja bersama-sama, saling melengkapi dalam satu koordinasi oleh leader dan difollow up dengan baik oleh follower. Adanya leader bukan berarti tujuan sepenuhnya jatuh pada sang leader, tugas sang leader hanya mengkoordinasi anggotanya supaya pemikirannya tidak keluar tujuan. Dalam sebuah tim, perlu adanya rasa saling melengkapi serta berkomitmen untuk mencapai target yang sudah disepakati untuk mencapai tujuan bersama secara efektif dan efisien.

Ketika Ikhwah Harus Jatuh Cinta-Akhwat Berbicara…



Ketika Akhwat Bicara


Ketika Akhwat Bicara…
By: Rinayanti

Oh ya… Izinkan ana bicara dari hati seorang wanita (bukan berarti mewakili kaum hawa keseluruhan) ini murni dari suara hati ane pribadi, so jangan men”generalisasi”kan pada semua akhwat. Kalo mau protes ke ane aja, otre?!)
Afwan sebenarnya yang pengen ana sampaikan adalah pilihan kita untuk memilih pasangan. Bagi para ikhwan, pikirkanlah baik-baik (matang-matang, masak-masak) sebelum menawarkan sebuah jalinan bernama ta’aruf. Jangan mudah melontarkannya jika tak ada komitmen dan kesungguhan untuk meneruskannya.

Mengertilah keadaan kami (akhwat). Antum tahu, bahwa sifat kaum hawa itu lebih sensitif. Kami mudah sekali terbawa perasaan. Disadari atau tidak, diakui atau tidak, kami adalah makhluk yang mudah sekali GeEr, suka disanjung, suka diberi pujian apalagi diberi perhatian lebih. Jadi saat kata ta’aruf atau mungkin khitbah itu keluar dari lisan seorang lelaki baik dan sholih seperti antum, tak ada alasan bagi kami untuk menolak. Karena jika kami menolak tanpa alasan yang jelas, maka hanya fitnah yang ada. Jadi, tolong tanyakan lagi pada diri antm, apakah kata-kata itu memang keluar dari lubuk hati antum yang terdalam? Apakah antum sudah memohon petunjuk kepada yang Maha Menguasai Hati? Apa antum benar-benar siap (ilmu, iman, mental, fisik, materi, dll) untuk menjalin ikatan suci bernama pernikahan?

Sekali lagi, berhatihatilah dengan kata ta’aruf. Karena ta’aruf adalah gerbang menuju pernikahan. Kemudian timbul pertanyaan, berapa jauhkah jarak pintu gerbang menuju pintu rumah antum? Padahal selama perjalanan akan banyak cobaan menghadang. Bunga-bunga indah di halaman rumah antum bisa membuat kami terpesona. Kolam ikan yang indah juga membuat kami terlena. Ingin sekali kami memetiknya, ingin sekali kami berlama-lama di sana menikmati keindahan dan kenikmatan yang antum sajikan. Tapi kami nggak berhak, kami belum mendapat izin dari si empunya rumah. Tadinya kami ingin segera mencapai sebuah keberkahan, tapi di tengah jalan antum menyuguhkan keindahan-keindahan yang membuat kami lupa akan tujuan semula.

Lebih menyakitkan lagi jika antum membuka gerbang itu lebar-lebar dan kamipun menyambut panggilan antum dengan hati berbunga-bunga. Tapi setelah kami mendekat dan sampai di depan pintu rumah antum, ternyata pintu rumah antum masih tertutup. Bahkan antum tak berniat membukakannya.

Saat itulah hati kami hancur berkeping-keping. Setelah semua harapan kami rangkai, kami bangun, tapi kini semua runtuh tanpa sebuah kepastian. Atau mungkin antum akan membukakannya, tapi kapan? Antum bilang jika saatnya tepat. Lalu antum membiarkan kami menunggu di teras rumah antum dengan suguhan yang membuat kami kembali terbuai, tanpa ada sebuah kejelasan. Jangan biarkan kami berlama-lama di halaman rumah antum jika memang antum tak ingin atau belum siap membukakan pintu untuk kami. Kami akan segera pulang karena mungkin saja kami salah alamat. Siapa tahu rumah antum memang bukan tempat berlabuhnya hati ini. Ada rumah lain yang siap menjadi tempat bernaung bagi kami dari teriknya matahari dan derasnya hujan di luar sana. Kami tak ingin mengkhianati calon suami kami yang sebenarnya. Di istananya ia menunggu calon bidadarinya. Menata istananya agar tampak indah. Sementara kami berkunjung dan berlama-lama di istana orang lain.

Akhi, sebelum ijab qobul itu keluar dari lisan antum, cinta adalah cobaan. Cinta itu akan cenderung pada nafsu. Cinta itu akan cenderung untuk mengajak berbuat maksiat . Itu pasti! Langkah-langkah syetan yang akan menuntunnya. Kita tentunya gak mau memakai label “ta’aruf” untuk membungkus suatu kemaksiatan bukan? Hati-hatilah dengan hubungan ta’aruf yang menjelma menjadi TTM (Ta’aruf Tapi Mesra). Tolong hargai kami sebagai saudara antum. Kami bukan kelinci percobaan. Kami punya perasaan yang tidak berhak antum buat “coba-coba”. Pikirkanlah kembali. Mintalah petunjukNya. Jika antum memang sudah siap dan merasa mantap, segera jemput kami.

Dan satu lagi yang perlu antum perhatikan adalah bagaimana cara antum menjemput. Tentunya kita menginginkan kata BERKAH di awal, di tengah, sampai di ujung pernikahan kan? Hanya ridho dan keberkahanNya lah yang menjadi tujuan. Pilihlah cara yang tepat dan berkah. Antum sudah merasa mantap pada akhwat itu. Antum yakin seyakin-yakinnya bahwa dialah bidadari yang akan menghias istana antum. Tapi antum tidak menggunakan cara yang tepat untuk menjemputnya. Sama halnya jika antum yakin dan mantap untuk menuju Surabaya. Tapi dari Jakarta antum salah memilih kendaraan, akibatnya antum gak akan pernah sampai ke Surabaya, malah nyasar. Ato kendaraannya sudah bener tapi nggak efektif. Terlalu lama di perjalanan. Masih keliling-keliling dulu. Akhirnya banyak waktu terbuang percuma selama perjalanan. So, antum juga harus memikirkan cara yang baik/ahsan, tepat dan berkah agar bahtera rumah tangga antum berjalan di atas ridho dan keberkahanNya. (Tuh kan jadi kemana-mana lagi. Tapi gak papa deh. Setidaknya unek-unek ana dah keluar, fiufh lega!)


sebagai perenungan bagi jiwa-jiwa yang merindukan kehadiran sang teman sejati untuk melangkah bersama menuju jannahNya…

Judul Asli: “Ketika Ikhwah Harus Jatuh Cinta-Akhwat Berbicara”